TONNIS MULAI VIRAL
Olahraga yang digadang-gadang akan menjadi viral itu sudah sangat buming ditelinga masyarakat Indonesia, terkhusus di Jawa Tengah sebab olahraga yang mempunyai jargon yang sangat mudah diingat,“Mudah, Murah dan Menyehat”. Menurut mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Semarang (UNNES), olahraga baru ini sudah menyebar hampir se-Jawa, dan di luar pulau Jawa karena pembuat atau pencipta olahraga TONNIS ini rajin pergi kesana kemari untuk mensosialisasikan olahraga TONNIS, pembuat atau pencipta olahraga TONNIS ini adalah seorang dosen olahraga di Unnes, menurutnya olahraga tak kenal usia, tak kenal kasta dan tak kenal perbedaan makadari itu jargon yang sangat mudah diingat diatas itu bisa tercetus. Olahraga TONNIS itu sendiri berasal dari gabungan olahraga Badminton-Tennis, tidak ada yang jauh berbeda untuk peraturan pertandingan hampir keseluruhan sama, namun untuk lapangan memakai lapangan bulutangkis. Gambaran yang baru-baru ini terjadi adalah mahasiswa diajak ikut serta dalam menyelenggarakan pertandingan TONNIS entahmenjadi seorang wasit, seorang pemain, ikut sebagai salah satu crew penyelenggara pertandingan, ballboys, panitia dalam pelatihan dan sosialisasi TONNIS itu sendiri juga ikut dilibatkan. Tujuan dari gambaran itu adalah mahasiswa dituntun untuk semakin mengenali dan paham akan olahraga TONNIS dari hal kecil pertandingan TONNIS hingga menyelenggarakan sebuah event kejuaraan TONNIS.
Banyak event kejuaraan diselenggarakan agar setiap ilmu yang didapatkan bisa membuahkan hasil yaitu sebuah prestasi. Kejuaraan-kejuaraan yang sudah pernah terselenggarakan diantaranya, Piala Dekan FIK, Piala Rektor UNNES, Piala Gubernur JATENG, Piala Kemenpora, Dll. Banyak dukungan yang diperoleh, entah dari instansi resmi maupun swasta, namun demi memvirallkan TONNIS Sang pencipta TONNIS tidak memandang hal tersebut, sebab peluangpun dipikirkannya. Sudah banyak masyarakat yang tau tentang TONNIS, terlebih dikalangan guru-guru, terlebih dikalangan masyarakat yang telah ikut di club-club TONNIS. Orang baru yang awalnya hanya sekedar melihat akan sangat tertarik untuk bermain, karena cukup mudah dan tidak mahal untuk seluruh perlengkapannya. Terkadang mahasiswa yang bertugas dilapangan juga ditanya-tanyai oleh orang baru tentang TONNIS, dan kreatifnya mahasiswa langsung menggiring orang baru untuk membeli peralatannya terkebih dahulu untuk bekal latihan TONNIS di kemudian hari.
Terciptanya olahraga ini tetu ada sejarahnya, berdasarkan pendapat ada banyak yang berpendapat demikian, dikarenakan dosen Tennis kesal karena mahasiswa melakukan STMJ (sekali tamplek mati jengkel) atau sekali bola dioper kemahasiswa lalu mahasiswa memukul namun mati. Olahraga yang bermula dari frustasinya seorang dosen terhadap mahasiswa yang kesulitan bermain Tennis itu sudah mendapat hasil atas jeri payahnya selama ini, jeripayah yang sudah dihasilkan ini sangat membantu mahasiswa dari tahap tidak bisa bermain Tennis menjadi bisa meskipun tidak seluwes atlet-atlet Tennis pada umumnya. Setidaknya dasar-dasar gerakan sudah dipenuhi oleh mahasiswa, agar mahasiswa tidak kaku sewaktu mereka mengajar atau melatih Tennis nantinya.
Pendapat dari setiap dosen yang kebanyakan adalah dukungan dan doa sangat jelas terlihat, karena olahraga TONNIS ini adalah olahraga yang terkenal sebagai olahraga made in UNNES, lebih tepatnya lagi yaitu olahraga TONNIS adalah olahraga made in mahasiswa olahraga UNNES, karena penciptanya seorang dosen Olahraga Unnes. Setiap ada mahasiswa asing atau pertukaran mahasiswa dari luar Unnes, seperti Denmark, Thailand, Singapura, Arab, Medan, Palembang, Manado, Padang, Kalimantan, Papua, Riau, Bali dan Jawa. Sudah pasti dan sudah jelas TONNIS akan diperkenalkan dan ditanyakan oleh mereka, namun menurut mereka sayang sekali belum ada TONNIS sampai Negara dan Provinsi mereka dan belum masuk dalam olahraga yang ada pada PON atau Kejuaraan resmi taraf Internasioanl. Tetapi mereka tetap antusias dan menggebu-gebu ingin memperkenalkan dan memviralkan olahraga TONNIS ini ketempat asal mereka, karena disisi harganya yang terjangkau, model permainannyapun cukup mudah, tidak memerlukan lahan yang seluas lapangan sepak bola atau lapangan tennis, karena lapangan TONNIS yang akan dipakai adalah seluas lapangan bulutangkis. Ketua TONNISpun mendukung semangat mereka, terkadang mereka diberi oleh-oleh alat dan perlengkapan TONNIS, agar oleh-olehnya berguna dalam mendukung mereka memviralkan olahraga TONNIS ini.
Rencana kedepan yang sudah ditulis dalam program kerja yaitu kejuaraan umum tingkat Provinsi dan Nasioanl,umum se-Jateng-DIY, umum seJawa-Bali, kejuaraan mahasiswa tingkat Jawa Tengah, kejuaraan mahasiswa tingkat Jateng-DIY, mahasiswa tingkat seJawa-Bali, mahasiswa tingkat Nasional, kejuaraan pelajar tingkat daerah, Provinsi dan Nasional, mahasiswapun kadang diberi tanggung jawab untuk membuat tuas akhir yaitu terjun kesekolah-sekolah untuk mensosialisasikan olahraga TONNIS, lalu melatih siswa-siswa yang ada disekolah tersebut dalam ekstrakulikuler target mereka melatih adalah prestasi, mahasiswa akan mengadakan event organizer kejuaraan TONNIS antar siswa di Kota Semarang yang pesertanya adalah siswa yang mereka latih sendiri nantinya. Dalam hal ini mahasiswa diajarkan mandiri dan mulai memberi pendekatan terhadap siswa sewaktu mengajar. Bukan beban yang diberikan oleh dosen terhadap mahasiswa, namun ilmu dan pengalaman yang mereka harus dapatakan sendiri, karena ilmu tidak selalu melalui pembelajaran dan teori namun dari pengalaman, mempraktekan hasil pembelajaran, ilmu dari hasil kerja dilapangan, karena sedikit pengalaman itupun masuk dalam ilmu. LNY_
Leave a Comment