sejarah pers dunia dan perkembangannya
sejarah
pers dunia dan perkembangannya
Sejarah
Jurnalistik Dunia

Sejarah jurnalistik di mulai pada masa Romawi kuno, pada masa pemerintahan
Julius Caesar (100-44 SM). Pada waktu itu, ada acta diurna berisi hasil uji
coba semua, peraturan baru, keputusan senat dan informasi penting lainnya yang
dipasang di pusat kota yang disebut Stadion Romawi atau “Forum Romanum”.
Surat kabar pertama diterbitkan di Cina pada tahun 911, Pau Kin. Koran ini
dimiliki oleh pemerintah ketika masa Kaisar Quang Soo. Tidak berbeda dalam Age
of Caesar, Kin Pau mengandung berita keputusan, pertimbangan dan informasi lain
dari Istana. Pindah ke Jerman, tahun 1609, penerbitan surat kabar pertama
bernama Avisa Relation Order Zeitung. Pada 1618, surat kabar tertua di Belanda
bernama Coyrante uytItalien en Duytschland. Surat kabar pertama di Inggris
diterbitkan pada 1662 bernama Oxford Gazette (later
the London) dan diterbitkan terus menerus sejak pertama kali muncul.
Surat kabar pertama di Perancis, the Gazette de France, didirikan pada
tahun 1632 oleh raja Theophrastus Renaudot (1.586-1.653), dengan perlindungan
Louis XIII. Semua surat kabar yang terkena sensor prepublication, dan menjabat
sebagai instrumen propaganda untuk monarki.
Industri surat kabar mulai menunjukkan kemajuan yang luar biasa ketika
budaya membaca di masyarakat semakin meluas. Terlebih ketika memasuki masa
Revolusi Industri, di mana industri surat kabar diuntungkan dengan adanya mesin
cetak tenaga uap, yang bisa meningkatkan kinerja untuk memenuhi permintaan
publik akan berita.
Pada pertengahan 1800-an bisnis berita mulai berkembang. Organisasi kantor
berita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan didistribusikan
ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah. Pasalnya, para pengusaha surat
kabar dapat lebih menghemat pengeluarannya dengan berlangganan berita kepada
kantor-kantor berita itu daripada harus membayar wartawan untuk pergi atau
ditempatkan di berbagai wilayah. Kantor berita yang masih beroperasi hingga
hari ini antara lain Associated Press (AS), Reuters (Inggris), dan
Agence-France Presse (Prancis).
Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah Yellow Journalism
(jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran headline” antara dua
koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi
dimiliki oleh William Randolph Hearst. Ciri khas jurnalisme kuning adalah
pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pemuatan judul utama yang
menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu “meningkatkan penjualan!”.
Jurnalisme kuning tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kesadaran jurnalisme sebagai profesi.
Organisasi profesi wartawan pertama kali didirikan di Inggris pada 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara-negara lain pada masa berikutnya. Kursus-kursus jurnalisme pun mulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas, yang kemudian melahirkan konsep-konsep seperti pemberitaan yang tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagai standar kualitas bagi jurnalisme professional.
Jurnalisme kuning tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kesadaran jurnalisme sebagai profesi.
Organisasi profesi wartawan pertama kali didirikan di Inggris pada 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara-negara lain pada masa berikutnya. Kursus-kursus jurnalisme pun mulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas, yang kemudian melahirkan konsep-konsep seperti pemberitaan yang tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagai standar kualitas bagi jurnalisme professional.
Penemuan
Mesin Cetak
Johannes
Gensfleisch zur Laden zum Gutenbergadalah
seorang pandai logam dan pencipta berkebangsaan Jerman yang memperoleh
ketenaran berkat sumbangannya di bidang teknologi percetakan. Gutenberg (1398-
3 Februari 1468) Tradisi menamainya sebagi pencipta movable type di Eropa,
suatu perbaikan sistem pencetakan blok yang sudah digunakan di wilayah
tersebut.
Karya utamanya, Alkitab Gutenberg (juga dikenal sebagai Alkitab 42 baris),
telah diakui memiliki estetika dan kualitas teknikal yang tinggi. Gutenberg
juga diakui karena memperkenalkan tinta berbasis minyak yang lebih tahan lama
dibandingkan tinta berbasis air yang dulu dipergunakan. Sebagai bahan
percetakan dia menggunakan naskah yang terbuat dari kulit binatang dan kertas,
yang terakhir diperkenalkan di Eropa dari Cina dengan menggunakan cara orang
Arab beberapa abad yang lalu.
Masa
muda
Gutenberg lahir di kota Mainz, Jerman, sebagai putra bungsu dari pedagang
kelas atas Friele Gensfleisch zur Laden, dari istri keduanya, Else Wyrich. Menurut
beberapa laporan Friele adalah seorang tukang emas untuk uskup di Mainz, namun
kemungkinan besar ia juga melakukan perdagangan kain sebagai sumber
penghasilannya. Tahun kelahiran Gutenberg tidak diketahui persis namun
kemungkinan besar sekitar 1398.
Ia menerima latihan awal sebagai seorang tukang emas. Pada tahun 1411,
terjadi pemberontakan di Mainz, sehingga dia harus pindah ke Strasbourg dan
tinggal di sana selama 20 tahun. Di Strasbourg, beliau menyambung hidupnya
dengan membuat barang yang terbuat logam. Gutenberg menghasilkan hiasan kecil
bercermin untuk dijual kepada peziarah agama Kristen. Dia kemudiannya pulang ke
Mainz dan bekerja sebagai seorang tukang emas.
Penemuan
percetakan
Mesin Cetak
karya Gutenberg (ilustrasi)
|
Gutenberg bukanlah penemu yang pertama, hal ini terbukti dengan adanya
bentuk pencetakan yang sangat sederhana yang dapat ditemukan di Cina dan Korea
sekitar tahun 175 AD. Tampilan yang terbalik di atas kayu, dan kemudian
perunggu telah dibuat pada tahun ini. Alat ini kemudian dibubuhi tinta kemudian
ditempatkan di atas secarik kertas dan digosok dengan lembut menggunakan sebuah
tongkat bambu.
Terobosan besar datang sekitar tahun 1440 oleh Johannes Gutenberg dari kota
Mainz, Jerman. Gutenberg menciptakan sebuah metode pengecoran potongan-potongan
huruf di atas campuran logam yang terbuat dari timah. Potongan-potongan ini
dapat ditekankan ke atas halaman berteks untuk percetakan. Metode penemuan
pencetakan oleh Gutenberg secara keseluruhan bergantung kepada beberapa
elemennya diatas penggabungan beberapa teknologi dari Asia Timur seperti
kertas, pencetakan dari balok kayu dan mungkin pencetakan yang dapat
dipindahkan, ciptaan Bi Shen, ditambah dengan permintaan yang meningkat dari
masyarakat Eropa untuk pengurangan harga buku-buku yang terbuat dari kertas.
Metode pengetikan ini bertahan selama sekitar 500 tahun.
Karya Johannes Gutenberg dalam mesin cetak di mulai sekitar 1436 ketika dia
sedang bekerja sama dengan Andreas Dritzehan, seseorang yang pernah dibimbing
oleh Gutenberg dalam pemotongan batu permata, dan Andreas Heilmann, pemilik
pabrik kertas. Tetapi rekor resmi itu baru muncul pada tahun 1439 ketika ada
gugatan hukum melawan Gutenberg; saksi-saksi yang ada membicarakan mengenai
cetakan Gutenberg, inventaris logam (termasuk timah), dan cetakan ketikannya.
Ide Gutenberg yang terpenting tercetus ketika dia bekerja sebagai tukang
emas di Mainz. Dia mendapat ide untuk menghasilkan surat pengampunan dengan
membentuk kop huruf untuk mencetak surat pengampunan dengan banyak agar dia
mendapat banyak uang untuk membayar hutang-hutangnya ketika dia bekerja sebagai
tukang logam dahulu. Waktu itu, buku dan surat ditulis dengan tulisan aksara
latin dengan tangan dan mengandung banyak kesalahan ketika penyalinan, juga
kekurangannya selain itu ialah lambat.
Oleh karena itu, Gutenberg pertama kalinya membuat acuan huruf logam dengan
menggunakan timah hitam untuk membentuk tulisan aksara latin . Pada mulanya,
Gutenberg terpaksa membuat hampir 300 bentuk huruf untuk meniru bentuk tulisan
tangan yang berbentuk tegak-bersambung. Setelah itu, Gutenberg membuatkan untuk
mereka mesin cetak yang bergerak untuk mencetak. Mesin cetak bergerak inilah
sumbangan terbesar Gutenberg. Setelah menyempurnakan mesin cetak bergeraknya,
Gutenberg mencetak beribu-ribu surat pengampunan yang disalah gunakan oleh
Gereja Katolik untuk mendapatkan uang. Penyalah-gunaan ini merupakan puncak
timbulnya bantahan daripada sebagian pihak seperti Martin Luther.
Pencetakan
Alkitab
Pada tahun 1452, Gutenberg mendapatkan pinjaman uang dari Johann Fust untuk
memulakan proyek pencetakan Alkitab yang terkenal. Namun, Gutenberg telah
dipecat dari pengurusan percetakan Alkitab itu sebelum dia disiapkan sepenuhnya
disebabkan Gutenberg dituduh mencetak surat pengampunan, kalender dan buku
bacaan ringan sebagai pengisi waktu luang. Bagaimanapun Alkitab yang dihasilkan
masih dikenal sebagai Alkitab Gutenberg yang mengandung 42 baris setiap halaman
disiapkan yang pada 15 Agustus 1456 dan dianggap sebagai buku bercetak tertua
di dunia barat.
Dua ratus jilid salinan Alkitab Gutenberg telah dicetak, sebagian kecilnya
(lebih kurang 50) dicetak di atas kulit lembu muda. Alkitab Gutenberg yang
cantik dan mahal itu dijual dengan harga tiga tahun gaji seorang kuli biasa.
Buku itu dijual di Pameran Buku Franfurt pada tahun 1456. Secara kasar, hampir
seperempat Bible Gutenberg masih terawat sampai sekarang.
Penemuan
dan kontribusi lain
Selain menjadi ahli dalam bidang percetakan, Gutenberg juga menciptakan
bahan sampingan percetakan seperti tinta dan cetakan huruf. Tinta yang
digunakan terbuat dari campuran minyak, tembaga, dan timah hitam yang masih
bagus warnanya. Tinta itu adalah bentuknya lain daripada tinta untuk menulis
biasa karena tinta percetakan lebih pekat dan lebih lengket. Gutenberg juga
telah menyempurnakan campuran logam untuk membentuk cetakan huruf dengan
gabungan timah hitam, antimon dan timah yang masih baru digunakan hingga abad
ke 20.
Gutenberg juga dipercayai untuk bekerja yang tugasnya ialah menyiapkan
Ensiklopedia Catholicon of Johannes de Janua, setebal 748 halaman dengan 2
ruangan setiap halaman dan 66 baris setiap satu ruangan. Pada akhir hayatnya
dia diterima sebagai pengiring kepada uskup besar Mainz.
Majalah Life menganggap Mesin Cetak adalah penemuan yang paling luar biasa
pada 1000 tahun terakhir. Penting untuk disadari bahwa abjad mungkin merupakan
kunci keberhasilan mesin cetak.
Kematian
Pada tahun 1468 Gutenberg meninggal karena Serangan Jantung, dan dimakamkan
di gereja Franciscan, Mainz.
Penemuan
Kertas
sekitar 2.200SM, orang Mesir kuno menemukan sejenis buluh yang disebut
papyrus (lontar) yang ternyata dapat dipergunakan untuk media tulis yang lebih
stabil dan dapat diandalkan.
Meskipun penggunaan papyrus menyebar jauh di luar Mesir, kulit binatang
juga masih banyak digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan tertulis.
Kulit sapi, kambing dan domba dicuci dan direntangkan pada bingkai dan dilapisi
dengan kapur berbentuk pasta yang membantu menghilangkan lemak dan bulu.
Sesudah kering, permukaan dihaluskan dengan menggosok memakai batu. Bahan yang
sudah siap disebut perkamen dan digunakan secara luas diseluruh Eropa sejak 170
SM. Perkamen yang berkualitas tinggi sangat langka sehingga harus diperlakukan
secara halus dan sering digunakan lebih dari sekali.
Media tulis awal ini memainkan peranan yang sangat penting dalam
perkembangan kebudayaan manusia tetapi memang kurang praktis. Hal ini berubah
sejak Tsai Lun pada th 250 SM memulai percobaannya dan memperkenalkan kertas ke
dunia.
Pada abad kedua, pembuat Pada abad kedua, pembuat kertas di
Cina menaruh potongan-potongan kulit kayu bagian dalam dari pohon Mulberry pada suatu tempat yang kuat, sering juga berupa batu yang berlubang dan dicampur dengan air. Dengan menggunakan palu atau alat pemukul lain, potongan kayu tersebut ditumbuk sehingga menjadi bubur berserat yang dalam istilah sekarang disebut sebagai ‘pulp’. Pulp tersebut kemudian dituangkan kedalam cetakan yang dangkal yang sebelumnya dilapisi dengan kain berbentuk seperti saringan. Kemudian cetakan ini dijemur di bawah sinar matahari dan ketika air telah menguap, maka hanya serat selulose yang tinggal dalam cetakan. Selanjutnya kertas diangkat dari cetakan tersebut. Ini adalah bentuk yang primitif dari kertas.
Cina menaruh potongan-potongan kulit kayu bagian dalam dari pohon Mulberry pada suatu tempat yang kuat, sering juga berupa batu yang berlubang dan dicampur dengan air. Dengan menggunakan palu atau alat pemukul lain, potongan kayu tersebut ditumbuk sehingga menjadi bubur berserat yang dalam istilah sekarang disebut sebagai ‘pulp’. Pulp tersebut kemudian dituangkan kedalam cetakan yang dangkal yang sebelumnya dilapisi dengan kain berbentuk seperti saringan. Kemudian cetakan ini dijemur di bawah sinar matahari dan ketika air telah menguap, maka hanya serat selulose yang tinggal dalam cetakan. Selanjutnya kertas diangkat dari cetakan tersebut. Ini adalah bentuk yang primitif dari kertas.
Pada abad ke 13, teknologi pembuatan kertas telah merambah Spanyol, tetapi
masih membutuhkan 300 tahun lagi baru teknologi tersebut menyebar ke Perancis,
Jerman, Itali dan Inggris dimana tercatat pabrik kertas Inggris yang pertama
kali diketahui dibangun di Hertfordshire pada th 1490. Di negara-negara Eropa,
saringan kawat yang halus menggantikan fungsi kain saringan dan serat linen
menggantikan kulit kayu mulberry yang sangat sulit diperoleh di daratan Eropa.
Masalah yang dihadapi dalam pembuatan kertas secara manual ialah
produktifitasnya yang sangat rendah dan memakan waktu yang lama. Pada abad
pertengahan, semua buku dicopy dengan tangan, kebanyakan dilakukan di atas
perkamen dan dilakukan oleh pemuka agama yang mempunyai kemampuan baca tulis di
atas rakyat biasa. Mesin cetak yang diciptakan pada abad ke 15 membawa
perubahan yang amat besar di bidang komunikasi. Untuk pertama kalinya, buku
dapat diproduksi secara massal. Untuk itu dibutuhkan kertas murah dalam jumlah
yang banyak menggantikan perkamen yang mahal.
Untuk memenuhi permintaan yang meningkat ini, pembuat kertas dituntut untuk
mempercepat dan meningkatkan produksi, tetapi tidak terlihat adanya terobosan
yang nyata sampai datangnya abad 17. Yaitu ketika Nicholas Luis Robert, dari
Essones, Perancis mematenkan sebuah mesin yang menggunakan belt kawat mesh yang
bergerak menggantikan fungsi cetakan kertas sehingga dapat dihasilkan kertas
secara kontinyu dan dalam jumlah besar. Mesin yang dibangun oleh Robert
kemudian dibawa ke Inggris dan dipatenkan di sana pada th 1801 oleh Henry
Fourdrinier, yang namanya dipakai sampai sekarang.
Dunia Islam
Setelah kekalahan Cina dalam Pertempuran
Talas pada 751 (hari ini Kyrgyzstan ),
penemuan ini menyebar ke Timur
Tengah. Legenda pergi, rahasia pembuatan
kertas diperoleh dari dua Cina tahanan
dari Pertempuran Talas, yang menyebabkan pertamapabrik
kertas di dunia Islam yang didirikan
di Samarkand .
Proses melelahkan pembuatan kertas halus
dan mesin dirancang untuk pembuatan massal kertas. Produksi dimulai
pada Baghdad ,
di mana metode diciptakan untuk membuat selembar kertas tebal, yang membantu
mengubah pembuatan kertas dari seni menjadi industri besar. Penggunaan bertenaga
air pabrik pulp untuk
menyiapkan bubur bahan
yang digunakan dalam pembuatan kertas, tanggal kembali ke Samarkand pada
abad ke-8, meskipun ini tidak harus bingung dengan pabrik
kertas (lihat Paper
pabrik bagian bawah). Kaum Muslim juga
memperkenalkan penggunaan palu
perjalanan (manusia-atau binatang-bertenaga) dalam
produksi kertas, menggantikan tradisional Cina mortir
dan alu metode. Pada gilirannya, metode
palu perjalanan kemudian dipekerjakan oleh orang Cina.
Pada abad ke-9, orang Arab menggunakan
kertas teratur, meskipun untuk karya-karya penting seperti salinan
dihormati Qur’an vellummasih
disukai. Kemajuan buku produksi
dan penjilidan buku diperkenalkan. Orang-orang
Arab membuat buku ringan yang dijahit dengan sutra dan terikat dengan kulit
yang tertutup papan pasta, mereka memiliki flap yang dibungkus buku ketika
tidak digunakan. Seperti kertas kurang reaktif terhadap kelembaban, papan
berat yang tidak diperlukan. Pada abad ke-12 di Marrakesh diMaroko jalan
bernama “Kutubiyyin” atau penjual buku yang berisi lebih dari 100 toko
buku.
Penggunaan tercatat paling awal dari
kertas untuk kemasan tanggal
kembali ke 1035, ketika Persia wisatawan
mengunjungi pasar diKairo mencatat
bahwa sayuran, rempah-rempah dan perangkat keras yang dibungkus kertas untuk
pelanggan setelah mereka dijual.
Sejak Perang
Salib Pertama tahun 1096, pembuatan kertas di
Damaskus telah terganggu oleh perang, produksi membelah menjadi dua
pusat. Mesir dilanjutkan
dengan kertas tebal, sementara Iran menjadi
pusat dari makalah tipis. Pembuatan kertas menyebar di seluruh dunia
Islam, dari mana itu barat lanjut menyebar ke Eropa . pembuatan
Kertas diperkenalkan ke India pada abad ke-13 oleh pedagang Arab, di mana
hampir seluruhnya diganti bahan penulisan tradisional.
Amerika
Di Amerika ,
bukti arkeologi menunjukkan bahwa bahan kulit-kertas tulisan yang sama juga
digunakan oleh bangsa
Maya selambat-lambatnya pada abad ke-5.
Disebut amatl ,
itu digunakan secara luas di kalangan Mesoamerika budaya
sampai penaklukan Spanyol . Perkamen
dibuat dengan merebus dan berdebar kulit bagian dalam pohon, sampai material
menjadi cocok untuk seni dan menulis. Bahan-bahan yang terbuat dari
alang-alang ditumbuk dan kulit adalah kertas teknis tidak benar, yang terbuat
dari bubur, kain, dan serat tanaman dan selulosa.,
Eropa
Dokumen kertas tertua yang dikenal di
Barat adalah Mozarab Misa
Silos dari abad ke-11, mungkin menggunakan
kertas yang dibuat di bagian
Islam dari Semenanjung Iberia . Mereka
menggunakan ganja dan linen kain
sebagai sumber serat. Yang pertama yang tercatat pabrik kertas di
Semenanjung Iberia berada di Xàtiva pada
1151.
- Salinan Alkitab
Gutenberg , di
AS Library of Congress
Kertas dicatat sebagai yang
diproduksi di Italia tahun 1276 dengan watermark yang digunakan di Fabriano oleh 1300 dan pabrik didirikan di Treviso dan kota-kota utara lainnya oleh 1340. Di Italia juga cetakan
kertas yang terdiri dari kawat logam dan sehubungan dengan itu juga watermark
pertama kali diperkenalkan. Awal Jermanmanufaktur berada di Mainz pada 1320 dengan sebuah pabrik di Nurenberg yang didirikan oleh Ulman
Stromer pada 1390.
Hanya tentang waktu ketika ukiran
kayu seni grafis teknik dipindahkan dari kain untuk kertas di cetak
master tua dancetakan
populer . Pabrik pertama yang
diketahui di Inggris didirikan oleh John
Tate di 1490 dekat Stevenage di Hertfordshire , tapi sukses secara komersial pertama pabrik kertas di Inggris
tidak terjadi sebelum 1588 ketika John
Spilman mendirikan pabrik
dekat Dartford di Kent dan awalnya bergantung pada keahlian pembuatan kertas Jerman.
Penerbitan
Koran pertama di Amerika
- The Penny Press :
Perkembangan teknologi percetakan telah mengakibatkan proses percetakan
semakin cepat, sehingga surat kabar semakin memasyarakat karena harganya murah
- Newspaper Barons
Pada akhir abad 19, surat kabar di Amerika mengalami kejayaan karena surat
kabar melakukan promosi yang sangat agresif.
- Yellow Journalism
Surat kabar di Amerika pada akhir abad 19 menjadi bisnis besar, karena
sirkulasinya yang semakin besar dan banyak persaingan antarpenerbit surat
kabar.
- Jazz Journalism
Tahun 1919 terbit surat kabar New York Daily News yang
ukurannya lebih kecil, banyak menggunakan foto terutama pada halaman pertama,
dan menampilkan satu atau dua headline, serta menekankan unsur sex dan sensasi.
Surat kabar pertama kali dibuat di Amerika Serikat, dengan nama “Public
Occurrenses Both Foreign and Domestick” di tahun 1690. Surat kabar tersebut
diusahakan oleh Benjamin Harris, seorang berkebangsaan Inggris. Akan tetapi
baru saja terbit sekali, sudah dibredel. Bukan karena beritanya menentang
pemerintah, tetapi hanya karena dia tidak mempunyai izin terbit. Pihak kerajaan
Inggris membuat peraturan bahwa usaha penerbitan harus mempunyai izin terbit,
di mana hal ini didukung oleh pemerintah kolonial dan para pejabat agama.
Mereka takut mesin-mesin cetak tersebut akan menyebarkan berita-berita yang
dapat menggeser kekuasaan mereka kecuali bila usaha itu dikontrol ketat.
Kemudian surat kabar mulai bermunculan setelah negara Amerika Serikat
berdiri. Saat itu, surat kabar itupun tidak sama seperti surat kabar yang kita
miliki sekarang. Saat itu surat kabar dikelola dalam abad kegelapan dalam
jurnalisme. Sebab surat kabar telah jatuh ke tangan partai politik yang saling
bertentangan. Tidak ada usaha sedikitpun untuk membuat berita secara objektif.,
kecuali untuk menjatuhkan terhadap satu sama lainnya. Washington dan Jefferson dituduh
sebagai penjahat terbesar oleh koran-koran dari lawan partainya.
Presiden John Adams membreidel koran ”The New Republik”. Selama koran tetap
dikuasai oleh para anggota partai politik saja, maka tidak banyak yang bisa
diharapkan.
Kemudian kecerahan tampaknya mulai menjelang dunia persurat kabaran. James
Gordon Bennet, seorang berkebangsaan Skotlandia melakukan revolusinisasi
terhadap bisnis surat kabar pada 1835. Setelah bekerja di beberapa surat kabar
dari Boston sampai Savannah akhirnya dia pun mendirikan surat kabar sendiri.
Namanya ”New York Herald” dengan modal pinjaman sebesar 500 dollar.
Percetakannya dikerjakan di ruang bawah tanah di Wall Street dengan mesin cetak
yang sudah tuam dan semua pekerjaan reportase dilakukannya sendiri.
Sejak itulah berita sudah mulai dipilah-pilahkan menurut tingkat
kepentingannya, tapi tidak berdasarkan kepentingan politik. Bennet menempatkan
politik di halaman editorial. Isi korannya yang meliputi soal bisnis,
pengadilan, dan kehidupan sosial masyarakat New York memang tidak bisa dijamin
keobyektifatnya, tetapi setidaknya sudah jauh berubah lebih baik dibandingkan
koran-koran sebelumnya.
Enam tahun setelah ”Herald” beredar, saingannya mulai muncul. Horace Greely mengeluarkan koran “The New York Tribune”. Tribune pun dibaca di seluruh Amerika. Pembacanya yang dominan adalah petani, yang tidak peduli apakah mereka baru sempat membaca korannya setelah berminggu-minggu kemudian. Bagi orang awam, koran ini dianggap membawa perbaikan bagi negara yang saat itu kurang terkontrol dan penuh bisnis yang tidak teratur.
Enam tahun setelah ”Herald” beredar, saingannya mulai muncul. Horace Greely mengeluarkan koran “The New York Tribune”. Tribune pun dibaca di seluruh Amerika. Pembacanya yang dominan adalah petani, yang tidak peduli apakah mereka baru sempat membaca korannya setelah berminggu-minggu kemudian. Bagi orang awam, koran ini dianggap membawa perbaikan bagi negara yang saat itu kurang terkontrol dan penuh bisnis yang tidak teratur.
Koran besar yang ketiga pun muncul di New York di tahun 1851, ketika Henry
J. Raymond mendirikan koran dengan nama “The New York Times”, atas bantuan
mitra usahanya, George Jones. Raymond-lah yang mempunyai gagasan untuk
menerbitkan koran yang non partisan kepada pemerintah maupun perusahaan bisnis.
Setelah serentetan perang saudara di Amerika usai, bisnis persuratkabaran
pun berkembang luar biasa. Koran-koran pun mulai muncul di bagian negara-negara
selain New York dan Chicago. Di selatan, Henry W. Grady dengan koran
“Konstitusi Atlanta”. Lalu, muncul koran “Daily News” dan “Kansas City Star”
yang mempunyai konsep pelayanan masyarakat sebagai fungsi dari sebuah sebuah
surat koran.
Di New York, surat kabar dianggap sebuah bisnis yang bakal menjanjikan.
Charles Dana membeli surat kabar ”Sun” dan menyempurnakannya. Editornya, John
Bogart punya cerita sendiri tentang berita. Menurutnya ”kalau anjing menggigit
manusai, itu bukan berita. Tapi kalau manusia menggigit anjing, itu baru
namanya berita”.
Pulitzer adalah yang pertama kali menerbitkan koran mingguan, di mana
isinya ditulis oleh para penulis terbaik yang pernah ada. Setelah Pulitzer
meninggal, ”New York World” malah menjadi yang terbesar di dunia. Orang
menyebut Pulitzer sebagai ”wartawannya surat kabar”.
Dalam perkembangannya, surat kabar berangkat sebagai alat propaganda
politik, lalu menjadi perusahaan perseorangan yang disertai keterkenalan dan
kebesaran nama penerbitnya, dan sekarang menjadi bisnis yang tidak segemerlap
dulu lagi, bahkan dengan nama penerbit yang semakin tidak dikenal.
Perubahan ini memberikan dampak baru. Ketika iklan mulai menggantikan
sirkulasi (penjualan langsung) sebagai sumber dana utama bagi sebuah surat
kabar, maka minat para penerbit jadi lebih identik dengan minat para masyarakat
bisnis. Ambisi persaingan untuk mendapatkan berita paling aeal tidaklah sebesar
ketika peloporan. Walaupun begitu, perang sirkulasi masih terjadi pada tahun
1920-an, tetapi tujuan jangka panjang mereka adalah untuk mencapai perkembnagn
penghasilan dari sektor iklan. Sebagai badan usaha, yang semakin banyak
ditangani oleh para pengusaha, maka surat kabar semakin kehilangna pamornya
seperti yang dimilikinya pada abad ke-19.
Namun, surat kabar kini mendapatkan sesuatu yang lain yang lebih penting. Surat kabar yang mapan kini tidak lagi diperalat sebagai senjata perang politik yang saling menjatuhkan ataupun bisnis yang individualis, melainkan menjadi media berita yang semakin obyektif, yang lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pihak-pihak tertentu saja.
Namun, surat kabar kini mendapatkan sesuatu yang lain yang lebih penting. Surat kabar yang mapan kini tidak lagi diperalat sebagai senjata perang politik yang saling menjatuhkan ataupun bisnis yang individualis, melainkan menjadi media berita yang semakin obyektif, yang lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pihak-pihak tertentu saja.
Kenaikan koran-koran ukuran tabloid di tahun 1920-an yang dimulai oleh ”The
New York Daily News”, memberikan suatu dimensi baru terhadap jurnalisme.
Akhirnya memang menjadi kegembiraan besar bagi kehidupan surat kabar, terutama
dalam meliput berita-berita keras. Perubahan lain yang layak mendapat perhatian
adalah timbulnya sindikasi. Berkat adanya sindikat-sindikat, maka koran-koran
kecil bisa memanjakan pembacanya dengan materi editorial, informasi, dan
hiburan. Sebab kalau tidak, koran-koran kecil itu tentu tidak dapat
mengusahakan materi-materi tersebut, lantaran biaya untuk itu tidaklah sedikit.
Sindikat adalah perusahaan yang berhubungan dengan pers yang memperjualbelikan
bahan berita, tulisan atau bahan-bahan lainuntuk digunakan dalam penerbitan
pers.
Penerbitan
koran pertama di Inggris
Nathaniel Butter dianggap sebagai orang pertama yang menciptakan surat
kabar berbahasa Inggris yang terbit secara berkala pada tahun 1622. Pada tahun
1665 di Inggris, terdapat surat kabar pertama yang terbit teratur setiap hari
bernama “Oxford Gazette”. Ketika Henry Muddiman menjadi
editor, Oxford Gazette berubah nama menjadi “London Gazette”.
Henry adalah orang pertama yang menggunakan istilah “Newspaper”. The Daily
Courant pada tahun 1702 menjadi surat kabar yang memberitakan masalah politik
dan pemerintahan.
Frankfurter Rundschau ialah surat
kabar harian Jerman, bermarkas di Frankfurt
am Main. Pertama kali terbit pada 1 Agustus 1945, sebagai surat kabar pertama di Jerman yang diduduki AS dan kedua di Jerman
pascaperang. Kini dimiliki oleh Druck und
Verlagshaus Frankfurt am Main GmbH dan mencapai
oplah 181.000.
Rundschau ialah harian kedua Jerman yang
dicetak setelah PD II, dan harian
pertama di sektor Amerika. Hans
Habe, seorang wartawankawakan Jerman pascaperang, mendirikan Rundschau untuk
mempropagandakan gagasan-gagasan liberal–parlemen.
Tata letak Rundschau modern dan pendirian editorialnya
progresif, atau kiri-liberal. Surat kabar ini mempertahankan bahwa
“kemerdekaan, keadilan sosial dan kejujuran” mendasari jurnalismenya.
Masa jabatan Dr. Wolfgang Storz sebagai pemimpin redaksi berhenti secara
tiba-tiba pada 16 Mei 2006. Pemimpin redaksi berikutnya adalah Dr. Uwe
Vorkötter (efektif 1 Juli 2006).
Saingan utamanya ialah Frankfurter
Allgemeine Zeitung yang bersifat
liberal-konservatif, Frankfurter
Neue Presse yang konservatif, dan juga edisi
lokal tabloidkonservatif Bild-Zeitung, koran terlaris di Eropa.
Pada 2003, surat kabar ini mengalami kesulitan keuangan dan didukung oleh garansi
dari negara bagian Hessen. Pada
Mei 2004 perusahaan DDVG yang
dimiliki SPD(partai sosial-demokrat) memperoleh 90% saham Druck- und Verlagshaus
Frankfurt am Main (DUV), penerbit Frankfurter Rundschau. Sosial demokrat
menekankan ingin mempercayakan masa depan salah satu dari sedikitnya surat
kabar harian kiri-liberal di Jerman dan menegaskan takkan menggunakan pengaruh
dalam artikel.
Hingga 2006 terakhir, sosial demokrat ingin mengurangi sahamnya hingga 50%.
Untuk menyelamatkan koran dari kepailitan, secara drastis DDVG memperpendek
ekspeditur. Dengan menggunakan pembubaran dan outsourcing, jumlah karyawan akan berkurang sejak 3 tahun terakhir dari 1700 ke 750.
Akta
diurna
Siapa tak kenal Julius Caesar? Ia tak hanya dikenal sebagai panglima perang
ulung tetapi juga politikus sukses, orator memesona, serta playboy nomor satu. Gaius Julius Caesar juga
seorang penulis hebat yang ikut memperkaya kesusastraan klasik melalui karya
berjudul De bello Gallico. Ia orang terpenting yang meruntuhkan
Republik Romawi. Nama Caesar pun kemudian diadopsi menjadi kaisar, kaiser, dan
czar yang merupakan sebutan hormat untuk raja. Mengingat prestasi dan perannya
dalam sejarah. tak heran jika ia menduduki tangga ke-65 dari daftar seratus
tokoh paling berpengaruh dalam sejarah versi Michael H. Hart.
Namun sayangnya, ada satu peran Caesar yang seringkali terlupakan. Ia
adalah pelopor jurnalisme pertama di dunia. Pada tahun 59 SM, Julius Caesar
membuat terobosan baru dengan mengumumkan hasil rapat senator melalui papan
pengumuman secara rutin. Papan pengumuman itu dipasang di tempat umum agar
diketahui orang banyak. Papan-papan pengumuman itu selanjutnya disebut Acta Diurna. Acta Diurna diakui
sebagai koran generasi pertama di dunia.
Secara harfiah Acta Diurna berarti
catatan harian. Karena saat itu belum dikenal teknologi cetak dan kertas, Acta Diurnaditulis dengan cara dipahat pada batu atau
logam. Dalam keseharian warga Romawi Kuno, papan-papan pengumuman itu seringkali
disebut acta saja. Kadang Acta
Diurna juga disebut Acta Popidi atau Acta Publica.
Pendahulu Acta Diurna adalah Acta Senatus. Acta Senatus ini merupakan catatan rapat senat yang tidak pernah
dipublikasikan kepada masyarakat luas dan menjadi rahasia negara. Dengan adanya
Acta Diurna, Kerajaan Romawi ingin menerapkan prinsip
ketersediaan informasi bagi publik. Kelahiran Acta Diurna sendiri
sekaligus menjadi penanda peradaban dunia berbasis teks. Selain itu, Acta Diurna juga bisa disebut proses pendokumentasian
pertama dalam sejarah peradaban manusia.
Pada perkembangannya, Acta Diurna juga
berisi berita ringan seputar kelahiran, kematian, dan pernikahan. Acta Diurna juga berisi peringatan militer,
peraturan-peraturan baru ataupun peringatan-peringatan untuk membayar pajak.
Tak hanya hasil rapat, dalam Acta Diurna juga
dimuat hasil sidang perkara, rencana kegiatan, serta profil pemimpin. Kendati
isinya semakin beragam, papan pengumuman ini tetaplah alat propaganda
pemerintah. Pendek kata, Acta Diurna menjadi
alat komunikasi sekaligus alat propaganda yang penting di Romawi Kuno kala itu.
Setiap dua hari sekali, informasi Acta Diurna diperbarui
dengan cara menurunkan batu atau logam dari tiang penyangga dan diganti dengan
yang baru. Salinan dari papan yang sudah diturunkan ini kemudian dikirimkan ke
pejabat provinsi sebagai arsip. Kegiatan inilah yang kemudian menjadi titik
munculnya kegiatan pengarsipan seperti yang kita kenal sekarang.
Sayang sekali sejarah Acta Diurna harus
berakhir ketika pemerintahan Romawi dipindahkan ke Konstantinopel. Papan-papan
pengumuman itu diawasi sedemikian rupa oleh pemerintah, kondisi yang pada masa
kini kita sebut sensor. Ujung cerita, Acta Diurna tak
lagi dipasang sebagai bentuk kontrol pemerintah.
Jelas sekali bahwa Acta Diurna adalah
alat komunikasi massa pertama. Papan pengumuman ini sekaligus mengawali
kegiatan pengarsipan dan pendokumentasian dalam bentuk tertulis. Meski
bentuk Acta Diurna masih sederhana, tak diragukan lagi
peran Julius Caesar dalam dunia jurnalistik sangatlah besar. Jika ditilik dari
definisi jurnalis yaitu mengumpulkan, menulis, dan menyebarkan informasi,
Caesar bisa disebut jurnalis pertama di dunia. Menjadi pelopor jurnalisme dunia
bukanlah peran yang begitu saja bisa dilupakan.
Pers
Pada masa Penjajahan Jepang
Pers di masa pendudukan Jepang semata-mata menjadi alat pemerintahan Jepang
dan sifat pro-Jepang. Beberapa harian yang muncul pada masa itu, antara lain:
1.
Asia Raya di Jakarta.
2.
Sinar Baru di Semarang.
3.
Suara Asia di Surabaya.
4.
Tjahaya di Bandung.
Pers nasional masa pendudukan Jepang memang mengalami penderitaan dan
pengekangan kebebasan yang lebih daripada zaman Belanda. Namun, ada beberapa
keuntungan yang didapat oleh para wartawan atau insan pers di indonesia yang
bekerja pada penerbitan Jepang, antara lain sebagai berikut:
1.
Pengalaman yang diperoleh para karyawan
pers Indonesia bertambah. Fasilitas dan alat-alat yang digunakan jauh lebih
banyak daripada masa pers zaman Belanda. Para karyawan pers mendapatkan
pengalaman banyak dalam menggunakan berbagai fasilitas tersebut.
2.
Penggunaan bahasa Indonesia dalam
pemberitaan makin seering dan luas. Penjajah Jepang berusaha menghapus bahasa
Belanda dengan kebijakan menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai
kesempatan. Kondisi ini sangat membantuk perkembangan bahasa Indonesia yang
nantinya juga menjadi bahasa nasional.
3.
Adanya pengajaran untuk rakyat agar
berfikir kritis terhadap berita yang disajikan oleh sumber-sumber resmi Jepang.
Selain itu, kekejaman dan penderitaan yang dialami pada masa pendudukan Jepang
memudahkan para pemimpin bangsa memberikan semangat untuk melawan penjajah.
Pers
Pada Masa penjajahan Belanda
Pada tahun 1615 atas perintah Jan Pieterzoon Coen, yang kemudian pada tahun
1619 menjadi Gubernur Jenderal VOC, diterbitkan “Memories der Nouvelles”, yang
ditulis dengan tangan. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa “surat kabar”
pertama di Indonesia ialah suatu penerbitan pemerintah VOC. Pada Maret 1688,
tiba mesin cetak pertama di Indonesia dari negeri Belanda. Atas intruksi pemerintah,
diterbitkan surat kabar tercetak pertama dan dalam nomor perkenalannya dimuat
ketentuan-ketentuan perjanjian antara Belanda dengan Sultan Makassar. Setelah
surat kabar pertama kemudian terbitlah surat kabar yang diusahakan oleh pemilik
percetakan-percetakan di beberapa tempat di Jawa. Surat kabar tersebut lebih
berbentuk koran iklan.
Tujuan pendirian pers masa itu :
- Untuk menegakkan
penjajahan
- Menentang pergerakan
rakyat
- Melancarkan
perdagangan
Pers
Pada zaman Orde lama
berjalan antara tahun 1945-1966. Pers orde lama dimulai ketika Indonesia
merdeka. Wartawan Indonesia mengambil alih percetakan-percetakan asing dan
mulai menerbitkan surat kabarnya sendiri. Tidak bertahan beberapa lama, Belanda
kembali dan ingin kembali menjajah sehingga surat kabar dalam negeri harus
terasing dengan surat kabar Belanda yang melakukan propaganda pemberitaan agar
masyarakat mau kembali kepada masa Pemerintahan Belanda. Indonesia berhasil
mempertahankan kemerdekaannya, dan memilih menjalankan demokrasi liberal. Dalam
masa ini, pers memiliki kebebasan untuk menerbitkan surat kabar sesuai dengan
aliran atau sesuai partai politik yang didukung (kurang lebih sama dengan apa
yang dimiliki pers saat ini).
Menyusul ketegangan yang terjadi dalam pemerintahan, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang kemudian menjadi akhir dari kebebasan pers. Dimulai dari itu, Indonesia menganut demokrasi terpimpin. Sistem otoriter tersebut kemudian memaksa pers untuk tunduk pada pemerintahan. Segala aktivitas dan pemberitaan yang dilakukan oleh pers harus melalui sensor. Bahkan setiap Pers harus memperoleh SIT atau Surat Ijin Terbit dari pemerintah.
Pemberedelan beberapa surat kabar dilakukan oleh pemerintah setelah peringatan yang diberikan oleh menteri penerangan, Maladi. Pemberedelan dilakukan bukan hanya kepada surat kabar asing namun juga surat kabar dalam negeri. Pers yang ingin tetap bertahan harus mau menjadi alat pemerintah untuk menggerakkan massa dan mengikuti kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Tidak hanya media pers surat kabar, bahkan media pers televisi yang saat itu hanya ada TVRI bahkan diperalat pemerintah dan menjadi sarana komunikasi politik yang dikuasai pemerintah. Pers yang awalnya adalah pers perjuangkan yang melawan pemerintahan Belanda ( penjajah ) beralih menjadi pers simpatisan yang cenderung menjadi pendukung dari partai-partai politik tertentu.
Menyusul ketegangan yang terjadi dalam pemerintahan, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang kemudian menjadi akhir dari kebebasan pers. Dimulai dari itu, Indonesia menganut demokrasi terpimpin. Sistem otoriter tersebut kemudian memaksa pers untuk tunduk pada pemerintahan. Segala aktivitas dan pemberitaan yang dilakukan oleh pers harus melalui sensor. Bahkan setiap Pers harus memperoleh SIT atau Surat Ijin Terbit dari pemerintah.
Pemberedelan beberapa surat kabar dilakukan oleh pemerintah setelah peringatan yang diberikan oleh menteri penerangan, Maladi. Pemberedelan dilakukan bukan hanya kepada surat kabar asing namun juga surat kabar dalam negeri. Pers yang ingin tetap bertahan harus mau menjadi alat pemerintah untuk menggerakkan massa dan mengikuti kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Tidak hanya media pers surat kabar, bahkan media pers televisi yang saat itu hanya ada TVRI bahkan diperalat pemerintah dan menjadi sarana komunikasi politik yang dikuasai pemerintah. Pers yang awalnya adalah pers perjuangkan yang melawan pemerintahan Belanda ( penjajah ) beralih menjadi pers simpatisan yang cenderung menjadi pendukung dari partai-partai politik tertentu.
Pers
Pada Orde Baru
Pers pada masa orde baru dimulai ketika pemerintahan Presiden Soeharto
(1966-1998). Dari sistem otoriter (paham demokrasi terpimpin) pemerintahan
Presiden Soekarno, Presiden Soeharto membawa Indonesia kepada sistem Demokrasi
pancasila. Pers Indonesia disebut sebagai pers pancasia, yaitu pers yang
orientasi, sikap, dan tingkah lakunya didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan
UUD 1945. Hakekat pers Pancasila adalah pers yang sehat, pers yang bebas dan
bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang
benar dan objektif, penyalur aspirasi rakyat, dan kontrol sosial yang
konstruktif.
Sama halnya dengan pemerintahan orde lama, kebebasan pers pada masa orde baru juga terjadi beberapa waktu saja menyusul terjadinya insiden ‘Malari’ atau Lima belas januari 1974. Pers dalam masa orde baru kehilangan identitas sebagai media independen yang bebas berpendapat dan menyampaikan informasi. Dunia pers dikekang dan mendapat tekanan dari segala aspek. Pers memutuskan terus mengikuti permainan politik pada jaman itu, kemudian banyak media massa yang mempublikasikan tulisan-tulisan berisi kritik terhadap pemerintah beserta keburukan pemerintah, lantas pada tahun 1994 banyak media yang diberedel oleh pemerintah. Tempo adalah majalah satu-satunya yang berjuang dan terus melawan pemerintah orde baru melalui publikasi tulisan-tulisan. Pemerintah memegang kendali seluruh aspek, terutama dalam bidang pers, bahkan tidak ada bedanya dengan pemerintahan otoriter Presiden Soekarno. Pada masa orde baru, juga ada SIUPP yaitu Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers ( sama halnya SIT pada kepemimpinan Soekarno), tujuannya adalah agar pemerintah dapat mengontrol secara penuh keberadaan media pers. Dewan pers pada masa orde baru difungsikan oleh pemerintah untuk melindungi kepentingan pemerintah dan konglmerat saja, bukan melindungi insan pers dan masyarakat.
Sama halnya dengan pemerintahan orde lama, kebebasan pers pada masa orde baru juga terjadi beberapa waktu saja menyusul terjadinya insiden ‘Malari’ atau Lima belas januari 1974. Pers dalam masa orde baru kehilangan identitas sebagai media independen yang bebas berpendapat dan menyampaikan informasi. Dunia pers dikekang dan mendapat tekanan dari segala aspek. Pers memutuskan terus mengikuti permainan politik pada jaman itu, kemudian banyak media massa yang mempublikasikan tulisan-tulisan berisi kritik terhadap pemerintah beserta keburukan pemerintah, lantas pada tahun 1994 banyak media yang diberedel oleh pemerintah. Tempo adalah majalah satu-satunya yang berjuang dan terus melawan pemerintah orde baru melalui publikasi tulisan-tulisan. Pemerintah memegang kendali seluruh aspek, terutama dalam bidang pers, bahkan tidak ada bedanya dengan pemerintahan otoriter Presiden Soekarno. Pada masa orde baru, juga ada SIUPP yaitu Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers ( sama halnya SIT pada kepemimpinan Soekarno), tujuannya adalah agar pemerintah dapat mengontrol secara penuh keberadaan media pers. Dewan pers pada masa orde baru difungsikan oleh pemerintah untuk melindungi kepentingan pemerintah dan konglmerat saja, bukan melindungi insan pers dan masyarakat.
Pers di era orde lama dan orde baru dapat dikategorikan ke dalam periode
kedua di mana kontrol Negara terhadap pers – meski di masa-masa awal
berkuasanya rezim, hubungan harmoni masih dapat terlihat – sangat besar
sehingga mematikan dinamika pers. Setelah penyerahan kedaulatan Jepang pada 15
Agustus 1945, wartawan Indonesia mengambil alih semua fasilitas percetakan
surat kabar dari tangan Jepang dan berupaya menerbitkan surat kabar sendiri.
Surat kabar pertama yang terbit di masa republik itu bernama Berita Indonesia
yang terbit di Jakarta sejak 6 September 1945.
Kondisi perpolitikan di Indonesia dalam tahun-tahun 1945-1958 dapat dikatakan masih sangat panas. Pertikaian dengan Belanda ataupun Jepang belum lagi tuntas, dan pergolakan di beberapa tempat dengan pihak Belanda ataupun Jepang yang belum menarik diri masih terjadi. Sebagai upaya serangan balik terhadap propaganda anti Belanda yang dilancarkan oleh surat kabar-surat kabar republik, maka Belanda juga menerbitkan surat kabar berbahasa Indonesia, diantaranya Fadjar (Jakarta), Soeloeh Rakyat (Semarang), Pelita Rakyat (Surabaya), serta Padjajaran dan Persatoean (Bandung). Pada masa itu, sebagian besar surat kabar terbit dalam empat halaman, dikarenakan kurangnya pendanaan dan percetakan yang masih minim.
Pada Desember 1948 di Indonesia telah terbit 124 surat kabar dengan total tiras 405.000 eksemplar. Tetapi pada April 1949, jumlah surat kabar berkurang menjadi hanya 81 dengan tiras 283.000 eksemplar. Ini diakibatkan oleh Agresi Militer Belanda Kedua yang terjadi pada Desember 1948. Sementara, jangkauan tiras berubah dari 500 menjadi 5.000 eksemplar. Sepanjang periode ini, pers Indonesia semakin memperkuat semangat kebangsaan, mempertajam teknik berpolemik, dan mulai memperlihatkan peningkatan semangat partisan.
Kondisi perpolitikan di Indonesia dalam tahun-tahun 1945-1958 dapat dikatakan masih sangat panas. Pertikaian dengan Belanda ataupun Jepang belum lagi tuntas, dan pergolakan di beberapa tempat dengan pihak Belanda ataupun Jepang yang belum menarik diri masih terjadi. Sebagai upaya serangan balik terhadap propaganda anti Belanda yang dilancarkan oleh surat kabar-surat kabar republik, maka Belanda juga menerbitkan surat kabar berbahasa Indonesia, diantaranya Fadjar (Jakarta), Soeloeh Rakyat (Semarang), Pelita Rakyat (Surabaya), serta Padjajaran dan Persatoean (Bandung). Pada masa itu, sebagian besar surat kabar terbit dalam empat halaman, dikarenakan kurangnya pendanaan dan percetakan yang masih minim.
Pada Desember 1948 di Indonesia telah terbit 124 surat kabar dengan total tiras 405.000 eksemplar. Tetapi pada April 1949, jumlah surat kabar berkurang menjadi hanya 81 dengan tiras 283.000 eksemplar. Ini diakibatkan oleh Agresi Militer Belanda Kedua yang terjadi pada Desember 1948. Sementara, jangkauan tiras berubah dari 500 menjadi 5.000 eksemplar. Sepanjang periode ini, pers Indonesia semakin memperkuat semangat kebangsaan, mempertajam teknik berpolemik, dan mulai memperlihatkan peningkatan semangat partisan.
Awal
Kemerdekaan (1942-1945)
Pers di awal kemerdekaan dimulai pada saat jaman jepang. Dengan munculnya
ide bahwa beberapa surat kabar sunda bersatu untuk menerbitkan surat kabar baru
Tjahaja (Otista), beberapa surat kabar di Sumatera dimatikan dan dibuat di
Padang Nippo (melayu), dan Sumatera Shimbun (Jepang-Kanji). Dalam kegiatan
penting mengenai kenegaraan dan kebangsaan Indonesia, sejak persiapan sampai
pencetusan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sejumlah wartawan pejuang dan
pejuang wartawan turut aktif terlibat di dalamnya. Di samping Soekarno, dan
Hatta, tercatat antara lain Sukardjo Wirjopranoto, Iwa Kusumasumantri, Ki Hajar
Dewantara, Otto Iskandar Dinata, G.S.S Ratulangi, Adam Malik, BM Diah, Sjuti
Melik, Sutan Sjahrir, dan lain-lain.
Penyebarluasan tentang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dilakukan
oleh wartawan-wartawan Indonesia di Domei, di bawah pimpinan Adam Malik. Berkat
usaha wartawan-wartawan di Domei serta penyiar-penyiar di radio, maka praktisi
pada bulan September 19945 seluruh wilayah Indonesia dan dunia luar dapat
mengetahui tentang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
RRI (Radio Republik Indonesia) terbentuk pada tanggal 11 September 1945
atas prakasa Maladi. Dalam usahanya itu Maladi mendapat bantuan dari
rekan-rekan wartawan lainnya, seperti Jusuf Ronodipuro, Alamsjah, Kadarusman,
dan Surjodipuro. Pada saat berdirinya, RRI langsung memiliki delapan cabang
pertamanya, yaitu di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, dan
Surabaya.
Surat kabar Republik I yang terbit di Jakarta adalah Nerita Indonesia, yang
terbit pada tanggal 6 September 1945. Surat kabar ini disebut pula sebagai
cikal bakal Pers nasional sejak proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, perkembangan pers republic sangat
pesat, meskipun mendapat tekanan dari pihak penguasa peralihan Jepang dan
Sekutu/Inggris, dan juga adanya hambatan distribusi.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, di Sumatera dan
sekitarnya, usaha penyebarluasan berita dilakukan mula-mula berupa
pamflet-pamflet, stensilan, sampai akhirnya dicetak, dan disebar ke
daerah-daerah yang terpencil. Pusat-pusatnya ialah di Kotaraja (sekarang Banda
Aceh), Sumatera Utara di Medan dimana kantor berita cabang Sumatera juga ada di
Medan, lalu Sumatera Barat di Padang, Sumatera Selatan di Palembang. Selain
itu, di Sumatera muncul surat kabar-surat kabar kaum republik yang baru, di
samping surat surat kabar yang sudah ada berubah menjadi surat kabar Republik,
dengan nama lama atau berganti nama.
Setelah
Indonesia Merdeka (1945-1959)
Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Sulawesi dan
sekitarnya, kalangan pers selalu mendapat tekanan-tekanan, seperti yang dialami
Manai Sophiaan yang mendirikan surat kabar Soeara Indonesia di Ujung Pandang.
Di Manado dan sekitarnya (Minahasa) tekanan dari pihak penguasa pendudukan
selalu dialami oleh kalangan pers. Di daerah terpencil, seperti Ternate yang
merupakan daerah yang pertama kali diduduki oleh tentara Sekutu, para pejuang
di kalangan pers tetap mempunyai semangat tinggi.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Jawa dan sekitarnya,
pertumbuhan pers paling subur, bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain di
wilayah RI ini. Hal itu disebabkan jumlah wartawan yang lebih banyak dan juga
karena pusat pemerintahan RI ada di Jawa. Pusat-pusatnya, adalah di Jakarta,
Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Solo, dan Surabaya.
Sementara itu, para wartawan dan penerbit sepakat untuk menyatukan barisan
pers nasional, karena selain pers sebagai alat perjuangan dan penggerak
pembangunan bangsa. Kalangan pers sendiri masih harus memecahkan
masalah-masalah yang mereka hadapi masa kini dan masa mendatang. Untuk itulah,
maka kalangan pers membutuhkan wadah guna mempersatukan pendapat dan aspirasi
mereka. Hal tersebut terwujud pada tanggal 8-9 Februari 1946, dengan
terbentuknya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Solo atau Surakarta.
Era
Reformasi
Suatu pencerahan datang kepada kebebasan pers, setelah runtuhnya rezim
Soeharto pada tahun 1998. Pada saat itu rakyat menginginkan adanya reformasi
pada segala bidang baik ekonomi, sosial, budaya yang pada masa orde baru
terbelenggu. Tumbuhnya pers pada masa reformasi merupakan hal yang
menguntungkan bagi masyarakat. Kehadiran pers saat ini dianggap sudah mampu
mengisi kekosongan ruang publik yang menjadi celah antara penguasa dan rakyat.
Dalam kerangka ini, pers telah memainkan peran sentral dengan memasok dan
menyebarluaskan informasi yang diperluaskan untuk penentuan sikap, dan
memfasilitasi pembentukan opini publik dalam rangka mencapai konsensus bersama
atau mengontrol kekuasaan penyelenggara negara.
Peran inilah yang selama ini telah dimainkan dengan baik oleh pers
Indonesia. Setidaknya, antusias responden terhadap peran pers dalam mendorong
pembentukan opini publik yang berkaitan dengan persoalan-persoalan bangsa
selama ini mencerminkan keberhasilan tersebut.
Setelah reformasi bergulir tahun 1998, pers Indonesia mengalami perubahan
yang luar biasa dalam mengekspresikan kebebasan. Fenomena itu ditandai dengan
munculnya media-media baru cetak dan elektronik dengan berbagai kemasan dan
segmen. Keberanian pers dalam mengkritik penguasa juga menjadi ciri baru pers
Indonesia.
Pers yang bebas merupakan salah satu komponen yang paling esensial dari
masyarakat yang demokratis, sebagai prasyarat bagi perkembangan sosial dan
ekonomi yang baik. Keseimbangan antara kebebasan pers dengan tanggung jawab
sosial menjadi sesuatu hal yang penting. Hal yang pertama dan utama, perlu dijaga
jangan sampai muncul ada tirani media terhadap publik. Sampai pada konteks ini,
publik harus tetap mendapatkan informasi yang benar, dan bukan benar sekadar
menurut media. Pers diharapkan memberikan berita harus dengan se-objektif
mungkin, hal ini berguna agar tidak terjadi ketimpangan antara rakyat dengan
pemimpinnya mengenai informasi tentang jalannya pemerintahan.
Sayangnya, berkembangnya kebebasan pers juga membawa pengaruh pada masuknya
liberalisasi ekonomi dan budaya ke dunia media massa, yang sering kali
mengabaikan unsur pendidikan. Arus liberalisasi yang menerpa pers, menyebabkan
Liberalisasi ekonomi juga makin mengesankan bahwa semua acara atau pemuatan
rubrik di media massa sangat kental dengan upaya komersialisasi. Sosok
idealisme nyaris tidak tercermin dalam tampilan media massa saat ini. Sebagai
dampak dari komersialisasi yang berlebihan dalam media massa saat ini,
eksploitasi terhadap semua hal yang mampu membangkitkan minat orang untuk
menonton atau membaca pun menjadi sajian sehari-hari.
Pers
Indonesia pada masa Penjajahan BelandaPada tahun 1907, golongan kaum ningrat
(priyayi) memelopori terbitnya persnasional, yakni mingguan medan prijaji.
Pemimpin redakturnya adalah R.M.Tirtoadisuryo. Sesuai dengan namanya mulai
tahun 1910, medan prijaji terbit sebagaiharian.Pertumbuhan pers diawasi dengan
ketat karena dikhawatirkan merugikan kebijakan politik pemerintah
penjajah. Pemerintah penjajah (Belanda) merasa ketentuan-ketentuan pidana
dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) dan artikel-artikel tambahanKUHP,
belum cukup memadai mengendalikan pers. Selanjutnya,diterbitkan aturan
Persbreidel
Ordonantie
, yaitu
aturan atau undang-undang tentang penghentian penerbitan pers. Aturan ini
akan diberlakukan terhadap surat kabar dan sejenisnya yang pemberitaannya
dinilai membahayakan pemerintahan penjajah.
Pers
Indonesia pada masa penjajahan jepangPers masa ini mengalami kemunduran. Pers
dipaksa untuk mendukung kepentingan jepang. Akhirnya, pers hanya digunakan
semata-mata sebagai alat pemerintah jepang.Hanya ada satu surat kabar yang
terbit (secara illegal), yaitu
Berita
Indonesia
. Surat
kabarini penerbitnya di pelopori oleh
Soeadi
Tahsin
(pelajar
Kenkoku Gakunkin).Penyebarluasan
Berita
Indonesia
ini
bertujuan untuk mengimbangi propoganda pemerintah penjajah Jepang yang
disiarkan melalui
Berita
Goenseikanbu,
surat
kabarmilik pemerintah yang difungsikan untuk mendukung dan menyebarluaska
kebijakan politi pemerintah penjajah. Surat kabar ii intinya berisi
propaganda-propaganda Jepangagar rakyat Indonesia bersedia membantu jepang
dalam perangnya melawan tentaraserikat.
Pers
Indonesia pada masa Orde LamaPada masa Orde Lama, dengan prinsip demokrasi
terpimpin pemerintahmenetapkan asas Manipol Usdek, pers atau penerbitan yang
tidak mencantumkan ManipolUsdek dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangganya dan tidak mendukungkebijaksanaan pemerintah akan dilarang terbit atau
di beredel. Pers pada masa itu harustegas dan jelas menyuarakan aspirasi
politik tertentu.
Pers
Indonesia pada masa Orde BaruMasa ini adalah masa kepemimpinan
presiden soeharto. Pada masa Orde Baruditerbitkan UU No. 11 Tahun 1966 tentang
ketentuan-ketentuan pokok Pers, yangkemudian diubah dengan UU No. 4 Tahun 1967,
dan selanjutnya diubah UU No. 21 1982,yang pada prinsipnya mengikat dan
mengendalikan kebebasan pers.Dewan Pers pada sidang Pleno XXV di Surakarta pada
tanggal 7 -8 Desember 1984menetapkan pers pancasila yang dimanfaatkan oleh
pemerintah untuk memperkuat status politik pemerintah Orde Baru.
Pers
Indonesia pada masa Era ReformasiPada masa ini, pers Indonesia
memperoleh kebebasan. Akibatnya banyak bermunculan pers baru. Pada masa
ini dikeluarkan UU No. 40 Tahun 1999 tentang pers.Kenyataan sejarah
menunjukkan peranan pers dalam mendukung perjuangan bnagsa Indonesia untuk
tumbuh dan berkembang menjadi bangsa yang bersatu, merdeka,dan mengisi
kemerdekaan, membangun memajukan kehidupan bangsa dan negaranya.
Referensi

Leave a Comment